20.8.13

Do not Expose Sins and Errors

Begitu ingin saya mengeluarkan uneg-uneg ini...
Sebuah pelajaran yang sebenarnya saya dapatkan beberapa waktu yang lalu, dan semoga saya senantiasa diingatkan akan pelajaran itu.
Seorang teman saya pernah bercerita tentang seseorang yang juga saya kenal, sebut saja orang itu pak A. Teman saya itu bercerita jika pak A pernah terkena kasus, namun meski kasus itu terkuak, tetapi namanya tetap tidak dibicarakan oleh publik (pak A merupakan pejabat di sebuah wilayah tertentu). Malahan pihak yang lainnya yang ramai menjadi pembicaraan publik. Teman saya bilang kalau mungkin pak A ini sakti, bisa mengalihkan perhatian publik, sehingga meski beliau terkena kasus dan harus mengikuti proses penyelidikan, publik seakan akan tidak tahu akan hal itu.
Namun yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah, pak A memang masuk dalam daftar penyelidikan dan publik seakan akan tidak tahu akan hal tersebut bukan karena beliau sakti atau apa, namun karena beliau yang tidak pernah membuka aib orang lain lain sehingga aibnya pun tetap tertutupi.
Selama saya mengenal beliau, seingat saya pak A tidak pernah menjelek-jelekkan orang lain, meski orang itu merugikan kita. Beliau tidak menyinggung kelakuan buruk mereka yang sudah merugikan kita, dan hanya menekankan untuk bekerja sebaik-baiknya untuk menghilangkan fitnahan dari mereka yang sudah merugikan kita.
Saya teringat cerita teman saya itu, karena beberapa hari ini banyak hal terjadi disekitar saya terkait dengan banyaknya keburukan orang lain yang diungkapkan dan bahkan dibesar-besarkan, tanpa mereka mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Menjadikan keburukan orang lain untuk mendapatkan simpati atau menyelamatkan diri sendiri. Dan kejadian kejadian itu seakan akan membuat kepala saya terasa penuh.


Dalam hal ini bukan menutupi kesalahan kita sendiri yang ingin saya tekankan, karena setiap manusia bisa saja melakukan kesalahan atau memiliki kekurangan. Jika memang bersalah kita harus  mempertanggungjawabkan dan memperbaikinya. Namun janganlah suka menyebarkan aib orang lain, agar kekurangan dan kesalahan kita bisa tertutupi, dan bisa segera kita perbaiki. karena sekecil apapun kekurangan atau kesalahan kita, jika kita tidak bisa menerima, bahkan bisa menjadi bencana besar bagi kita. Saya pernah membaca, bahkan Tuhan pun akan menutupi aib kita, dan hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu jika kita juga tidak menyebarkan aib orang lain meski itu saat kita diadili nanti.
Semoga saja saya tetap diingatkan akan menerapkan pelajaran ini

pic: credit 2 google.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar