Saya sering cerita cerita sama ibu saya kalau pulang dari ketemuan dengan beberapa teman. Akhir akhir ini sering cerita hobi wisata kuliner teman teman saya. Teman-teman saya lagi seneng-senengnya wisata kuliner. Setiap ada tempat makan makan baru pasti langsung jadi bahan rumpian.
Kalau inget wisata kuliner langsung saya ingat penyakit perut yang saya derita kurang lebih dua tahun yang lalu. waktu itu saya pernah sakit perut dan saya mengira kalau itu adalah penyakit usus buntu, ternyata setelah di periksa oleh dokter, ternyata penyakit itu disebakan oleh virus yang sejenis oleh typhus-saya lupa namanya. dan biasanya diakibatkan oleh kurang bersihnya makanan kita atau tempat makanan yang kita pakai.
Dua kali saya terkena penyakit itu, saya ingat waktu itu saya sering pulang sampai sore dan untuk makan siang saya harus beli diluar. Saat terkena yang kedua kalinya, dokter yang memeriksa saya langsung menanyakan apakah saya masih sering beli makanan diluar atau jajan diluar. Tidak ada pilihan, saya jujur kalau saya memang harus beli makanan di luar saat siang hari. Namun saya juga memperhatikan kebersihan makanan itu, kemudian dokter itu bilang kalau sebanarnya bukan cuma makanan yang bersih saja atau tempat yang bersih saja yang harus kita perhatikan saat kita makan, namun kita juga harus tahu bahan bahan apa saja yang ada didalam makanan kita. Apakah bahan bahan itu menyehatkan atau tidak.
Ketika kita beli jajanan di luar kita kadang tidak tahu, bahan apa saja yang digunakan, sudah berapa kali minyak goreng itu digunakan. bahkan pernah saya tahu-secara tidak sengaja-dari seorang penjual makanan kalau minyak goreng yang dia gunakan berasal dari lemak bebek, dan dia terkenal penjual yang rasa masakannya lumayan enak dan banyak pelanggannya. Padahal lemak bebek terkenal dengan kolesterol yang tinggi. Nah...menakutkan juga meski kadang banyak yang bilang, kalau memang sudah waktunya sakit juga bakalan sakit, namun dari sudut pandang saya ya lebih baik mencegah penyakit itu.
Rasanya saat ini lebih baik saya makan makanan hasil masakan sendiri, meskipun terkadang pengen juga kalau lihat jajanan jajanan di luar. Dan biarlah mereka bilang kalau saya tidak pernah beli makanan di luar atau tidak pernah berwisata kuliner. Dari pada saat ini saya hanya memanjakan mulut saya atau hanya gengsi karena trend wisata kuliner sedangkan nantinya saya harus merasakan akibatnya, lebih baik saya makan masakan hasil karya sendiri yang saya pasti tahu komposisinya dan kebersihannya.
3.7.13
15.6.13
Vintage picture
Salah satu yang membuat saya suka dari sebuah buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam adalah gambar yang ada di dalamnya. Gambar bukan berarti foto, namun gambar ilustrasi, layaknya buku jaman dahulu. Jika kita melihat buku buku pelajaran terbitan beberapa tahun ini, pihak penerbit cenderung lebih suka memasukkan foto dari pada gambar ilustrasi. Menurut saya gambar ilustrasi lebih membuat otak kita berimajinasi
kawai...lucu....
alat tulis yang gambarnya lucu bener-bener membuatku tak tahan untuk tidak mengambilnya.....
post it bergambar atau note book kecil.....
apalagi kalau gambar kucing terpampang di alat tulis itu..... semakin tak tertahankan
Animal in danger
Hanacaraka - aksara jawa
Bagi kita yang bersekolah di provinsi Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur, tentu kita tidak asing dengan aksara jawa. Meskipun banyak dari kita yang tidak hafal dengan aksara-aksara ini, namun kita tentu pernah menulis aksara aksara ini.
Rasanya seperti nostalgia ketika saya menemukan buku lama tentang pelajaran menulis aksara jawa ini.
Mungkin saja jika aksara ini digunakan sebagai bahasa tulis sehari-hari penduduk Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, mungkin saja mereka akan memiliki bakat menggambar, layaknya orang Jepang yang mudah mengekspresikan pikiran mereka dalam bentuk gambar seperti manga, namun bukan gambar seperti manga atau komik jepang mungkin lebih seperti gambar wayang kulit. Ya itu hanyalah sesuatu yang ada dalam otak saya
Rasanya seperti nostalgia ketika saya menemukan buku lama tentang pelajaran menulis aksara jawa ini.
Mungkin saja jika aksara ini digunakan sebagai bahasa tulis sehari-hari penduduk Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, mungkin saja mereka akan memiliki bakat menggambar, layaknya orang Jepang yang mudah mengekspresikan pikiran mereka dalam bentuk gambar seperti manga, namun bukan gambar seperti manga atau komik jepang mungkin lebih seperti gambar wayang kulit. Ya itu hanyalah sesuatu yang ada dalam otak saya
Label:
Belajar Yuuukkk,
dadi wong jowo,
My Story
14.5.13
stars in the sky
"Satu-satunya jalan kita menatap ruang angkasa adalah menatap kembali ke waktu sebelumnya. Kita tidak pernah tahu seperti apa alam raya sekarang, kita hanya tahu seperti apa ia waktu itu. Ketika kita melihat sebuah bintang yang jauhnya ribuan tahun cahaya, sesunggunya kita menempuh ribuan tahun kembali dalam sejarah ruang angkasa" - Dunia Sophie
Masih dari buku yang sama, namun kali ini mengingatkan saya saat saya masih kecil. Ketika malam, saya sering keluar rumah untuk membeli jajanan di toko dekat rumah yang buka sampai jam 3 pagi. Saat saya keluar rumah, saya sering memandang ke arah langit. melihat bintang bintang yang berkerlip.
Dan kalimat diatas, sekaan mengingatkan hal itu.
Saat saya masih kelas 6 SD, saya ingat ada bab tentang rasi bintang di pelajaran IPA. Ada beberapa rasi bintang, waluku, gubug penceng, scorpio, dan yang lainnya. Bahkan yang membuat saya semakin tertarik adalah salah seorang keluarga saya yang pekerjaan sehari-harinya sebagai petani pernah bercerita tentang kegunaan rasi bintang tersebut.
Sayang buku IPA kelas 6 SD saya sudah dimakan rayap-rayap yang tidak bertanggung jawab, namun ada beberapa hal yang membuat mengobati kekecewaan saya itu yaitu ketika saya pergi ke planetarium di Museum AAL Surabaya dan disana seakan akan saya berada di angkasa dan bermain bersama bintang. Serta saat ini akhirnya saya bisa melihat bintang bintang tersebut melalui software stellarium
Masih dari buku yang sama, namun kali ini mengingatkan saya saat saya masih kecil. Ketika malam, saya sering keluar rumah untuk membeli jajanan di toko dekat rumah yang buka sampai jam 3 pagi. Saat saya keluar rumah, saya sering memandang ke arah langit. melihat bintang bintang yang berkerlip.
Dan kalimat diatas, sekaan mengingatkan hal itu.
Saat saya masih kelas 6 SD, saya ingat ada bab tentang rasi bintang di pelajaran IPA. Ada beberapa rasi bintang, waluku, gubug penceng, scorpio, dan yang lainnya. Bahkan yang membuat saya semakin tertarik adalah salah seorang keluarga saya yang pekerjaan sehari-harinya sebagai petani pernah bercerita tentang kegunaan rasi bintang tersebut.
Sayang buku IPA kelas 6 SD saya sudah dimakan rayap-rayap yang tidak bertanggung jawab, namun ada beberapa hal yang membuat mengobati kekecewaan saya itu yaitu ketika saya pergi ke planetarium di Museum AAL Surabaya dan disana seakan akan saya berada di angkasa dan bermain bersama bintang. Serta saat ini akhirnya saya bisa melihat bintang bintang tersebut melalui software stellarium
2.5.13
The world is your classroom
'Perbedaan seorang guru sekolah dan filosof adalah guru sekolah mengira mereka tahu banyak hal yang mereka coba paksakan masuk ke tenggorokan kami. Filosof berusaha untuk memahami segala sesuatu bersama murid-murid mereka' - Dunia Sophie
Saya sedang membaca ulang novel Jostein Gaarder - Dunia Sophie, beberapa hari ini. Tadi saya membaca kalimat diatas-bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, sepertinya pas sekali kalimat tersebut. Kalimat yang diucapkan Sophie-tokoh dalam novel itu, mengena dihati saya. "Sudahkah kita bisa menjadi filosof saat bersama murid murid kita? Tentu dengan tanpa mengesampingkan esensi dari pendidikan"
Kalimat itu diucapkan Sophie setelah dia membaca surat yang berisi sejarah kehidupan Socrates, yang dia terima dari seseorang yang dia sebut sebagai guru filsafatnya. Socrates yang mengajar dengan seni berdiskusi, merasa bahwa pemahaman seorang murid bukan harus ditanamkan oleh gurunya, namun murid itu harus memiliki pemahaman yang muncul dari dirinya sendiri.
Ada dua hal dalam otak saya tentang penyataan Sophie. Yang pertama adalah terkadang kita, atau saya juga lupa, saat mengajar sebenarnya kita tidak seharusnya memaksa murid-murid kita untuk menjadi seperti kita. Namun kita seharusnya menemani dan membimbing mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Membuat mereka memahami kehidupan ini dari sudut pandang mereka, dan membuat mereka menjadi bijaksana dan mampu mengambil sikap yang tepat terhadap diri mereka dan kehidupan mereka. Sehingga mereka akan mengetahui mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak baik untuk dilakukan.
Dan yang kedua adalah seorang guru saat mengajar bukan hanya menyampaikan sesuatu yang dia miliki, namun juga seharusnya belajar. Bahkan muridpun juga merupakan media pembelajaran bagi seorang guru di sekolah. Bagaimana seorang guru harus bersikap terhadap murid-muridnya, bagaimana dia harus membuat murid-muridnya lebih nyaman saat mereka belajar, dan tentunya bagaimana membuat mereka lebih mudah paham terhadap apa yang disampaikannya.
Itu yang saya dapatkan dari novel Gaarder yang sedang saya baca ulang, semoga saja ini memberikan pelajaran bagi saya, agar saya bisa menjadi guru sekolah yang lebih baik.
Pic : credit2 Google
Saya sedang membaca ulang novel Jostein Gaarder - Dunia Sophie, beberapa hari ini. Tadi saya membaca kalimat diatas-bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, sepertinya pas sekali kalimat tersebut. Kalimat yang diucapkan Sophie-tokoh dalam novel itu, mengena dihati saya. "Sudahkah kita bisa menjadi filosof saat bersama murid murid kita? Tentu dengan tanpa mengesampingkan esensi dari pendidikan"
Kalimat itu diucapkan Sophie setelah dia membaca surat yang berisi sejarah kehidupan Socrates, yang dia terima dari seseorang yang dia sebut sebagai guru filsafatnya. Socrates yang mengajar dengan seni berdiskusi, merasa bahwa pemahaman seorang murid bukan harus ditanamkan oleh gurunya, namun murid itu harus memiliki pemahaman yang muncul dari dirinya sendiri.
Ada dua hal dalam otak saya tentang penyataan Sophie. Yang pertama adalah terkadang kita, atau saya juga lupa, saat mengajar sebenarnya kita tidak seharusnya memaksa murid-murid kita untuk menjadi seperti kita. Namun kita seharusnya menemani dan membimbing mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Membuat mereka memahami kehidupan ini dari sudut pandang mereka, dan membuat mereka menjadi bijaksana dan mampu mengambil sikap yang tepat terhadap diri mereka dan kehidupan mereka. Sehingga mereka akan mengetahui mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak baik untuk dilakukan.
Dan yang kedua adalah seorang guru saat mengajar bukan hanya menyampaikan sesuatu yang dia miliki, namun juga seharusnya belajar. Bahkan muridpun juga merupakan media pembelajaran bagi seorang guru di sekolah. Bagaimana seorang guru harus bersikap terhadap murid-muridnya, bagaimana dia harus membuat murid-muridnya lebih nyaman saat mereka belajar, dan tentunya bagaimana membuat mereka lebih mudah paham terhadap apa yang disampaikannya.
Itu yang saya dapatkan dari novel Gaarder yang sedang saya baca ulang, semoga saja ini memberikan pelajaran bagi saya, agar saya bisa menjadi guru sekolah yang lebih baik.
Pic : credit2 Google
Langganan:
Komentar (Atom)













